itemscope='itemscope' itemtype='http://schema.org/WebPage'>
=Hamimku

Menjadi Perempuan Berdaya Versi Kita, Kenapa Tidak?

9 komentar

menjadi perempuan berdaya versi kita

Hai Kawan Hamimku, aku mau berceloteh tentang menjadi perempuan berdaya versi kita, kenapa tidak? Sebuah ulasan yang mungkin lebih ke mengingatkan diri sendiri untuk terus menimbang syukur dan meluaskan sabar. Agar gak gampang mengeluh alias "sambat" hwkakaka.

Eh, coba simak cuplikan nasihat di bawah ini!

Ketika ijazah S1 sudah di tangan, teman-temanmu yang lain sudah berpenghasilan, sedangkan kamu, dari pagi hingga malam sibuk membentuk karakter bagi makhluk yang akan menjadi jalan surga bagi masa depan.
Mainkan saja peranmu, dan tak ada yang tak berguna dari pendidikan yang kau raih, dan bahwa rezeki Allah bukan hanya tentang penghasilan kan? Memiliki anak-anak penuh cinta pun adalah rezeki-Nya.

Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?

-Salim A Fillah-


Yup!

Sekilas rasanya ingin berontak saat disebutkan "mainkan saja peranmu". What! Bagaimana bisa menjalankan peran dengan baik jika ternyata kita terpaksa menjalankannya?

Apalagi sebagai seorang istri atau ibu yang nyaris pekerjaannya 1 x 24 jam tiada henti. Lelah, pasrah, bahkan bisa jadi marah dan kecewa saat mencoba melirik kawan sebaya yang karirnya menjulang, tampil mempesona dengan segala kejayaannya sebagai perempuan.

Bayangan masa lalu perempuan single yang energik, bebas, penuh petualangan, dan tampak produktif serta berdaya di masanya berkelebatan. Namun fakta saat ini seakan 180 derajat berubah.

Coba tengok penampilanmu dan keseharianmu!

Hanya berdaster, melakukan aktivitas monoton tiada henti. Berkecimpung dengan rutinitas melayani suami dan anak berulang kali, lagi, lagi, dan lagi. Lalu bagaimana bisa menciptakan suasana bahagia jika diri kita saja tak bahagia menjalaninya?

Dan kata, "Mainkan saja peranmu!" menjadi ungkapan memuakan di telinga. Begitukah? Mari kita coba renungkan kembali. Mungkin memang ada bagian hati kita yang sedang sakit. Mungkin ada mindset yang kurang tepat di otak kita.

Mari kita mulai dengan beberapa pertanyaan yang perlu kita jadikan bahan perenungan!

Luangkan Waktu Deep Talk Yuks!


dampak  tidak mencintai diri sendiri
Baik, sejujurnya memaksa untuk menyukai sesuatu dari hal yang tak kita minati memang sulit. Namun ada satu hal yang perlu kita ketahui bahwa apapun peran yang sedang kita jalankan saat ini maka cobalah merubah mindset positifnya sejak dalam pikiran.

Sebab apa yang ada dalam pikiranlah yang mempengaruhi bagaimana reaksi kita terhadap sesuatu. Semakin mudah kita berpikir positif maka reaksi kita pun akan mengeluarkan tindakan yang sama.

Mari kita mulai dengan pertanyaan mendasar tentang diri kita lalu jawablah, mungkin bisa kamu lakukan sambil bercermin;

1. Siapa namamu?

2. Dimana dan kapan kamu dilahirkan?

3. Apa cita-citamu?

4. Sesuaikah cita-citamu dengan kondisimu saat ini?

5..Apakah saat ini kamu bahagia?

Jika jawabanmu iya, maka apa yang membuatmu bahagia?

Jika jawabanmu tidak, maka lanjutkan ke no 6.

6. Apa yang membuatmu tidak bahagia?

7. Siapa yang menciptakanmu?

8. Apa nikmat terbesar yang patut kamu syukuri hingga bisa hidup sampai detik ini?

9. Apakah yang membuat kamu bertahan?

10. Pernahkah kamu mengucapkan terima kasih pada dirimu sendiri?

Tambahkanlah berbagai pertanyaan yang mungkin kamu butuhkan untuk menyadari tentang banyaknya nikmat atas kehidupan kita hari ini. Terlebih jika kamu adalah seorang muslim. Mari kita renungkan firman Allah SWT,

“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An Nahl: 18).

Pentingkah Memahami Diri Sendiri?

Sejak menggaungnya isu self love, aku banyak membaca referensi seputar mencintai diri sendiri. Baik artikel, webinar, podcast, dan buku. Salah satu buku antologi yang membuka kesadaranku akan self love adalah Memeluk Cermin.

are you happy

Kumpulan cerita yang diangkat dari perjalanan hidup para penulisnya ini semakin menguatkanku bahwa perasaan mengeluh, lelah, terpaksa menjalani hari adalah dikarenakan atas perasaan yang tidak memahami diri sendiri.

Kita tidak bahagia karena tidak menciptakannya. Sejatinya, yang membuat kita mudah sakit hati dan merasa tak berdaya adalah diri kita sendiri. Kita mengijinkan orang lain menyakiti kita. Padahal kita paham bahwa hati dan otak kita adalah milik kita sendiri. Kita yang bisa mengontrolnya.

Kenapa sibuk dengan nyinyiran orang lain?

Sejauh apa yang kita lakukan dengan bahagia tidak melanggar aturan Tuhan dan tidak merugikan, kenapa kita takut? Sungkan? Gak enakan?
Ingat, bahagia itu diciptakan!
Kita perlu mengenali diri kita dengan peka terhadap emosi yang kita rasakan. Inilah pentingnya deep talk dengan diri sendiri. Are you happy today?

Tampaknya pertanyaan ini sepele, namun faktanya masih banyak orang yang bingung menjawab apa yang mereka rasakan. Entah karena tidak terbiasa atau pura-pura tak merasakan emosinya? Hanya kamu dan perasaanmu yang tahu.

Dampak terburuk saat kita tak bisa memahami diri kita sendiri adalah perasaan insecure. Ya, insecure. Kita akan merasa underestimate, terus-menerus merasa ragu dan tidak percaya diri. Akibatnya, kamu tidak akan mudah untuk berkembang apalagi berkarya.

Menyedihkan bukan? Inilah pentingnya memahami diri sendiri.

Tips Menjadi Perempuan Berdaya Versi Kita


Aku bersyukur, di era sekarang arus informasi lebih mudah didapat. Meski demikian kita harus cermat agar tidak termakan hoax. Dan pusat informasi yang sering aku jadikan referensi adalah buku.

Satu alasan yang selalu membuatku bersyukur karena diberi kenikmatan untuk mencintai aktivitas membaca. Dengan membaca buku seringkali aku mendapatkan teman, guru, penasihat, bahkan pelajaran dari pengalaman orang lain.

Semua itu jadi bekal untukku memperluas wawasan dan pola pikir. Membangun pemahaman yang baik dari pemikiran orang lain yang lebih matang. Seperti satu buku bersampul orange ini, Empowered Me karya Puty Tyar.
menjadi perempuan berdaya dalam empowered  me

Dalam buku ini, aku semakin menguatkanku atas pilihan yang aku ambil. Atas apa yang aku jalani saat ini yakni sebagai ibu maupun istri. Seperti yang aku sampaikan di atas bukan?

Aku mencatat ada lima poin besar, tips menjadi perempuan berdaya dalam menjalankan peran apapun kita saat ini.

Pertama, mengenali diri sendiri

Poin paling penting. Pahami dirimu, perasaan yang kamu rasakan, dan bagaimana mengatasinya. Satu lagi, stop membandingkan diri dengan orang lain.

Self awareness ini akan jadi modal kita dalam mengambil keputusan dalam kehidupan kita, menjalaninya, dan bertanggung jawab menyelesaikan pilihan itu dengan baik. Kita akan memahami mana yang penting bagi kita dan tidak mudah terdistraksi.

Julidan orang tak akan mudah menggoyahkan apa yang sudah kita pilih. Inilah makna berdaya. Seperti kata KBBI, berdaya adalah mempunyai akal (cara dan sebagainya) untuk mengatasi sesuatu dan sebagainya. Arti lainnya dari berdaya adalah berkekuatan.

Yup!

Kita berdaya menjalankan apapun peran kita saat ini. Seperti kawan blogger asal Surabaya ini, beliau menikmati perannya sebagai dokter anak. Caranya berdaya tak hanya di bidang kedokteran melainkan juga di dunia tulisa menulis tepatnya sebagai seorang blogger.

Kedua, tahu tujuan besar dan definisi sukses versi kita sendiri.

Nah, visi tidak hanya dimiliki oleh sebuah organisasi. Kita sebagai individu juga harus punya visi besar. Visi besar ini akan menjadi target kita setiap kali melangkah.

Bicara sukses, sebenarnya bersifat kontekstual. Sebab ukuran suskes atau berhasilnya setiap individu itu berbeda-beda. Kenapa demikian?

Karena masing-masing orang memiliki tujuan, awalan, kondisi, serta nilai yang dianut (core value) berbeda. Maka hal ini juga akan memberikan pengaruh pada ukuran sukses yang berbeda pula.

Maka, merumuskan makna sukses versi kamu akan membuat kita jadi lebih berdaya.

Ketiga, menjadi perempuan berdaya yang produktif

Wah, kalau kita bilang produktif itu artinya tidak sama dengan sibuk. Sebab produktif itu merujuk pada pengertian di KBBI, kemampuan menghasilkan atau mendatangkan manfaat.

Namun perlu dipahami lagi, produktivitas itu juga kontekstual. Sebab dipengaruhi bagaimana kondisi kita. Jadi ukuran produktif itu tidak bisa sama rata, semua kembali ke potensi, tujuan, sudut pandang, dan pemahaman kita akan kondisi kita sendiri.

Keempat, mampu menetapkan prioritas

Menetapkan tujuan dan kemampuan menyusun prioritas akan mengarahkan kita pada pengambilan keputusan sehari-hari, untuk menentukan apa yang penting dan apa yang relatif tidak penting.

Hal ini membuat kita jadi lebih produktif. Dan menyusun prioritas adalah hal penting dalam manajemen energi dan waktu. Hidup harus tetap dijalankan secara seimbang, ini poin yang kadangs sering terlupa. Maka, mulailah dari sekarang.

Kelima, Lakukan Perencanaan dan Jadwal

Ehm, sebenarnya poin terakhir ini memang membutuhkan konsistensi yang tinggi. Namun jika Kawan Hamimku bisa mengerjakannya maka kita sangat tidak mungkin bisa berdaya dalam menjalankan peran kita.

Sebab perencanaan membuat kegiatan kita lebih efektif dan efisien. Dan lagi, ini akan memudahkan kita untuk mengambil keputusan berdasarkan prioritas yang kita pilih.

Hal penting dari sebuah perencanaan yang terjadwal ini adalah eksekusi. Yup! Sebuah kebiasaan yang dilakukan berulang maka akan menjadi habit.

Nah, kawan hamimku bisa bayangkan jika aktivitas produktif yang kita lakukan bisa menjadi habit maka itu akan membentuk menjadi karakter. Tentunya karakter baik sesuai dengan tujuan kita di awal bukan?

Mainkan Saja Peranmu dengan Bahagia!

Ketika nyatanya kondisi memaksamu untuk bekerja, meninggalkan buah hati yang tiap pagi melepas pergimu dengan tangis.
Mainkan saja peranmu, sambil memikirkan cara agar waktu bersamanya tetap berkualitas.

Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?

–Salim A Fillah–

Ya, aku pernah diposisi seperti ini. Menjadi working moms bukanlah hal yang mudah. Namun, dengan pemahaman yang baik atas peran kita. Kemudian mengambil pilihan dengan sadar sesuai dengan tujuan hidup kita dengan tetap memperhatikan skala prioritasnya.

Insya Allah, kita lebih mudah menjalani hari-hari kita dengan baik. Sebagai apapun kita, maka akan ada cara menemukan jalan sukses & bahagia dengan menjadi versi maksimal diri kita masing-masing.

Khususnya menjadi perempuan berdaya versi kita. Dengan segala kemampuan, potensi, kondisi kita saat ini. Percayalah bahwa Tuhan menciptakan kita membawa misi besar. Selain sebagai hamba juga khalifah. Kuncinya jalani dengan bahagia!

Seperti analogi dalam sebuah tatanan kepanitiaan, tim konsumsi meski tak tampil di permukaan menjadi bagian penting sebuah kepanitian. Bagaimana jadinya jika tim konsumsi tak menjalankan perannya dengan baik?

Bisa dijawab sendiri bukan?

Nah, sama dengan peran kita saat ini. Sebagai perempuan khususnya, menjalankan peran sebagai apapun kita saat ini maka jadilah perempuan yang berdaya versi kamu dan berbahagialah!







Hamimeha
Hamimeha
Bismillah, lahir di Pulau Garam, tumbuh di kota Santri, menetap di kota Pahlawan., Saat ini suka berbagi tentang kepenulisan-keseharian-dan parenting., ● Pendidik, ● Penulis 11 buku antologi sejak 2018, ● Kontributor di beberapa media online lokal dan nasional sejak 2019, ● Praktisi read a loud dan berkisah, ● Memenangkan beberapa kompetisi menulis dan berkisah, ● Narasumber di beberapa komunitas tentang parenting dan literasi. ●

Related Posts

9 komentar

  1. Perencanaan dan jadwal ini yang aku belum bikin. Padahal kalau direncanakan dan terjadwal sepertinya kita makin produktif lo ya mbak.

    Dan btw sebenarnya beberapa menit yg lalu aku udah mau bikin jadwal minggu ini, tp bayiku kebangun. Jadi gagal lagi deh hehehe.

    BalasHapus
  2. Aku penasaran dengan buku empowered me.. Kmaein ikut launching bukunya dan jadi penasaran pingin beli juga.. Ternyata mba hamim sudahh punya duluan ya^^.. Semoga kita bisa jadi prempuan berdaya versi diri kita masing" ya mba :D

    BalasHapus
  3. Menjadi perempuan itu berat lho... tidak mudah! Apalagi menjadi "Perempuan Berdaya". Perlu effort lebih. Motivasi harus kuat. Semangat selalu ya buat semua wanita Indonesia yang harus berdaya...

    BalasHapus
  4. agak speechless baca tulisan mb hamim yang ini. ada gelombang-gelombang kevil yg timbul di hati. apalagi baca kutipan nasihat uztad salim di awal paraghraf. menikmati peran itu penting ya mb..

    BalasHapus
  5. Mbaaak... Terjedot aku bacanya...
    Mainkan saja peranmu tugasmu hanya taat..
    Kata2 ini dlu sering jadi motivasi saat aku bekerja di ranah publik..
    Dan sekarang membaca uulisan mbaa..diingatkan lagi dg kata bijak tsb..
    Yups yuk berdaya bahagia bermanfaat dan Taat...
    Makasih mb sharingnyaaa

    BalasHapus
  6. Setuju banget. Aku belajar ini di suatu komunitas. Bahkan kita masing2 punya prioritas dan kondisi yang berbeda-beda, termasuk goals hidup yg berbeda juga. Jadi suksesnya pun relatif. Intinya mindful menjalani peran, nggak mengkambing hitamkan situasi maupun orang sekeliling. Just do it ^^ kadang yang kita anggap baik itu ternyata nggak, yg dianggap nggak baik ternyata itu baik kata Allah. semangat...

    BalasHapus
  7. Menjadi perempuan berdaya sebenernya ga sulit ya Mba, yg penting bisa kenali diri sendiri dan mengoptimalkan kemampuan yg kita miliki

    BalasHapus
  8. Jadi ibu rumah tangga yang berijazah itu rawan sambat ya, apalagi yang kata orang sayang banget masih muda cuma di rumah. duh makin punya peluang sambat. Intinya memang banyakin bersyukur , self talk, deep talk dan pillow talks bareng suami sih.

    Peluk sesama perempuan mari mainkan peran sebaik-baiknya, karena kita ga pernah tahu siapa yang kita didik di rumah kecil kita, mungkin suatu hari dia adlah pemimpin dunia yang menegakkan agama Islam.

    BalasHapus
  9. Nasihat -nasihat beliau begitu bijaksana, saat itu pernah bertemu beliau di sela kesibukannya di Masjid Jogokariyan. Tepat setelah idul fitri. Adem banget ngobrol sama beliau di ruang sekret takmir.

    BalasHapus

Posting Komentar