=Hamimku

Mengenal Gangguan Emosi dan Perilaku, Langkah Cerdas Guru Tanggap!

44 komentar
Mengenal anak gangguan emosi dan perilaku
"Duh, anakku tuh suka mukul, gampang marah, emosian pokoknya."

"Iya, dia memang nakal karena mukulan (suka mukul."

"Iya, si anu itu memang sering bikin teman-temannya nangis."

Seringkali label anak nakal memang melekat kepada mereka yang memiliki kebiasaan memukul atau mengganggu temannya. Apalagi jika disertai dengan emosi yang meledak-ledak.

Tahukah Kawan Hamimku, ada beberapa tanda bahwa anak dengan perilaku yang tidak biasa pada umumnya bisa mengindikasikan adanya gangguan.

Parahnya, jika gangguan tersebut tidak terdeteksi dan cenderung diabaikan akan berakibat pada kondisi yang memburuk. Umumnya, anak dengan perilaku yang melanggar normal sosial di masyarakat ini dikenal dengan tunalaras.

Namun faktanya, ternyata tunalaras kurang tepat jika menggambarkan anak dengan gangguan emosi dan perilaku pada anak. Nah, agar memperjelas wawasan kita. Yuks kita belajar bersama mengenal anak dengan gangguan emosi dan perilaku ya Kawan Hamimku.
 

Sekilas Tentang Gangguan Emosi dan Perilaku


Sering kali anak dengan gangguan emosi dan perilaku memiliki karakteristik yang komplek. Umumnya perilaku anak EBD juga dilakukan oleh anak-anak lain seperti perilaku tidak patuh, perkelahian, merusak, pengucapan kata-kata kotor dan tidak senonoh, senang memerintah, berperilaku kurang ajar, serta menyendiri.

Hal inilah yang menyebabkan anak dengan gangguan emosi dan perilaku sulit untuk dideteksi, akibatnya anak cenderung mendapatkan perilaku abai atau bahkan bisa jadi terjadi kesalahan dalam pemberian layanan pendidikan yang sesuai dengan kekhususan yang dimiliki anak.

Nah, dengan demikian Kawan Hamimku bisa membaca ulasan di bawah ini yuks!

Pengertian Anak dengan Gangguan Emosi dan Perilaku

Gangguan emosi dan perilaku atau Emotional and Behavioral disorder ( EBD ) u mengacu pada suatu kondisi dimana tanggapan perilaku atau emosional seorang individu di sekolah sangat berbeda dari norma-norma anak lain yang umumnya diterima, sesuai dengan usia, etnis, atau budaya yang mempengaruhi secara berbeda kinerja pendidikan di wilayah seperti perawatan-diri, hubungan sosial, penyesuaian pribadi, kemajuan akademis, perilaku di ruang kelas atau penyesuaian terhadap pekerjaan.
Sederhananya, gangguan emosi dan perilaku merupakan gangguan yang ditandai dengan pola tingkah laku disosial, agresif atau menentang, emosi tidak stabil yang berulang dan menetap.
Perlu diingat oleh Kawan Hamimku bahwa perilaku ini ekstrem ini artinya berbeda dari pada anak seusia itu, bersifat menetap dan lebih parah daripada kenakalan anak atau sikap memberontak remaja pada lazimnya. Untuk kasus anak-anak usia dini perlu diperhatikan terkait fase perkembangan mereka ya kawan Hamimku.

Faktor -Faktor yang Mempengaruhi Anak dengan Gangguan Emosi dan Perilaku

Bagaimana anak bisa mengalami gangguan emosi dan perilaku?

Pertanyaan ini mungkin akan muncul di dalam benak kita, bukan? Yuks kita kupas satu persatu.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya gangguan emosi dan perilaku yaitu faktor biologi, faktor lingkungan atau keluarga, faktor sekolah, dan faktor masyarakat.

Pertama, faktor biologis

Faktor biologis berkaitan dengan faktor bawaan pada diri anak yang bisa jadi diturunkan dari gen keluarga maupun ketika anak dalam kondisi janin di kandungan. Contohnya adalah anak-anak yang lahir dengan sindrom alkohol janin, yang menunjukkan masalah dalam pengendalian impuls dan hubungan interpersonal yang dihasilkan dari kerusakan otak. Malnutrisi dapat juga menyebabkan perubahan perilaku dalam penalaran dan berpikir. Selain itu, kelainan seperti skizofrenia mungkin memiliki dasar genetik

Kedua, faktor keluarga

Keluarga bisa memiliki peran penting dalam fase perkembangan anak. Bagaimana kondisi keluarga serta lingkungan anak bertumbuh bisa menjadi faktor resiko anak mengalami gangguan emosi dan perilaku.

Hakikatnya, keluarga adalah lingkungan terdekat anak yang merupakan peletak dasar perasaan aman pada anak. Anak belajar pengalaman pertama kali mengenai perasaan, emosi, dan sikap sosial adalah bersama keluarga. Maka, keluarga memiliki peran besar dalam memberikan resiko anak dengan EBD.

Aspek-aspek yang berkaitan dengan masalah gangguan emosi dan tingkah laku adalah:

(a) Penerapan pola asuh yang tidak konsisten dan kesalahan dalam penerapan disiplin,
(b) Keterlibatan pihak ketiga yang ekstrim berbeda dalam pendidikan anak,
(c) Penolakan dan pengabaian dari orang tua,
(d) Orangtua atau orang dewasa menjadi model negatif bagi anak,
(e) Kualitas rumah tangga, umumnya anak dengan gangguan emosi dan perilaku dipicu oleh kondisi orang tua dengan keluarga kurang harmonis.
(f) Kematian salah satu orangtua yang memicu stres pada single parent,
(g) Orang tua dan anggota keluarga yang tidak dapat memenuhi kebutuhan anak,
(h) Status sosial ekonomi keluarga,
(i) Perlakuan orangtua yang tidak adil,
(j) Harapan orangtua yang tidak realistik, dan
(k) Hukuman fisik yang berlebihan.

Namun, interaksi yang sehat seperti kehangatan dan responsif, disiplin konsisten dengan panutan, dan perilaku yang mengharapkan penghargaan dapat sangat meningkatkan perilaku positif pada anak-anak. Harapannya, setiap keluarga menyadari bahwa keluarga atau rumah tempat anak bertumbuh adalah faktor terbesar dalam mewarnai fase pertumbuhan dan perkembangan anak.

Ketiga, faktor sekolah

Ada beberapa anak mengalami gangguan emosi dan perilaku ketika mereka mulai bersekolah.
Pengalaman di sekolah mempunyai kesan dan arti penting bagi anak-anak. Perlu Kawan Hamimku ketahui, bahwa “kompetensi sosial ketika anak-anak saling berinteraksi dengan perilaku dari guru dan teman sekelas sangat memberi kontribusi terhadap permasalahan emosi dan perilaku.”

Ketika seorang anak mendapat respon negatif dari guru dan teman sekelasnya saat mengalami kesulitan dan kurang keterampilan di sekolah tanpa disadari anak terjerat dalam interaksi negatif. Anak akan berada dalam keadaan jengkel dan tertekan yang diakibatkan dari tanggapan yang diterimanya baik dari guru maupun teman sekelasnya.

Beberapa sikap pihak sekolah yang tidak mendukung perkembangan positif pada anak, antara lain: 
(a) Disiplin dan tata tertib yang terlalu kaku, 
(b) Inkonsistensi pelaksanaan disiplin dan tata tertib, 
(c) Tuntutan yang terlalu berlebihan terhadap prestasi anak, 
(d) Kepribadian guru yang negatif, 
(e) Perlakuan guru yang tidak adil terhadap siswa, dan (
f) Kemampuan manajemen waktu guru yang rendah. 

Disisi lain, interaksi positif dan produktif guru dan anak dapat meningkatkan pembelajaran anak dan perilaku sekolah yang sesuai serta memberikan dukungan ketika anak mengalami masa masa sulit.

Keempat, faktor budaya

Daniel P. Hallahan, dkk (2009: 274), menuliskan “values and behavioral standards are communicated to children through a variety of cultural condition, demands, prohibition, and models.” 

Yang dimaksudkan adalah standar nilai-nilai perilaku anak didapat melalui tuntutan-tuntutan maupun larangan-larangan, dan model yan disajikan oleh kondisi budaya. Beberapa budaya dapat mempengaruhi perkembangan emosi dan perilaku anak misalnya saja contoh tindak kekerasan yang diekspos media (televisi, film, maupun internet), penyalahgunaan narkoba yang seharusnya sebagai obat medis dan penenang, gaya hidup yang menjurus pada disorientasi seksualitas, tuntutan-tuntutan dalam agama, dan korban kecelakaan nuklir maupun perang.

Sejatinya, anak, keluarga dan sekolahnya melekat pada budaya yang mempengaruhi mereka. Nilai dan standar tingkah laku telah diberikan kepada anak dalam berbagai kondisi budaya, tuntutan, larangan, dan model.

Klasifikasi Anak dengan Gangguan Emosi dan Perilaku

Yups, Kawan Hamimku perlu diketahui bahwa terdapat banyak cara dalam mengklasifikasikan gangguan emosional atau penyimpangan perilaku berdasar pada masalahnya, tetapi tidak ada sistem yang berlaku umum untuk dapat mengklasifikasikannya.
Akan tetapi, beberapa psikolog dan pendidik melakukan asesmen lebih secara individual dari tingkah tingkah laku anak dan faktor situasional.
Sebelum membahas klasifikasi mari kita simak bagaimana ciri-ciri anak dengan gangguan emosi dan perilaku melalui video di bawah ini:


Nah, setelah menyimak lebih jelas tentang mengenal anak dengan gangguan emosi dan perilaku atau EBD di atas. Kita bisa mencoba untuk mengklasifikasikan anak EBD berdasarkan beberapa kriteria.

Ada beberapa kriteria yang dapat dijadikan pedoman untuk menetapkan berat ringan kriteria anak dengan EBD itu adalah:

a. Besar kecilnya gangguan emosi, artinya semakin tinggi memiliki perasaan negatif terhadap orang lain. Makin dalam rasa negative semakin berat tingkat kenakalan anak tersebut.

b. Frekuensi tindakan, artinya frekwensi tindakan semakin sering dan tidak menunjukkan penyesalan terhadap perbuatan yang kurang baik semakin berat kenakalannya.

c. Berat ringannya pelanggaran/kejahatan yang dilakukan dapat diketahui dari sanksi hukum

d. Tempat/situasi seperti apa anak menunjukkan gangguannya

Maksudnya adalah terkait keberanian anak dalam menunjukkan gangguannya. Jika anak berani menunjukkan marah-marah atau tindakan ekstrim di masyarakat maka itu artinya dia menunjukkan gejala berat untuk EBD.

e. Mudah sukarnya dipengaruhi untuk bertingkah laku baik.

Para pendidikan atau orang tua dapat mengetahui sejauh mana dengan segala cara memperbaiki anak. Anak “bandel” dan “keras kepala” sukar mengikuti petunjuk termasuk kelompok berat

f. Tunggal atau ganda ketunaan yang dialami. Apabila seorang anak tunalaras juga mempunyai ketunaan lain maka dia termasuk golongan berat dalam pembinaannya

Klasifikasi Berdasarkan Jenis dan Penyimpangannya Anak

Perlu diingat ya Kawan Hamimku, bahwa anak dengan gangguan emosi dan perilaku merupakan anak dengan perilaku ekstrem yang berulang dan menetap. Dengan kata lain, jangan melakukan penilaian yang terlalu dini tanpa observasi secara menyeluruh.

Anak dengan gangguan emosi dan perilaku dibagi dari segi jenis dan derajat penyimpangannya, yaitu:

Pertama, klasifikasi anak EBD berdasarkan Jenis

a. Dilihat dari aspek kepribadian, yaitu terdapat anak dengan EBD yang mengalami kelainan dalam perkembangan emosi, dan anak tunalaras sosial yang mengalami kelainan dalam penyesuaian diri dalam lingkungan.

b. Dilihat dari aspek kesehatan jiwa: terdapat anak EBD psikopat yaitu anak yang memiliki penyimpangan emosi dan penyesuaian yang dipengaruhi faktor genetik (endogen) yang tidak dapat disembuhkan, dan anak EBD s sementara yaitu anak yang mempunyai penyimpangan emosi dan penyesuaian, yang dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan dapat disembuhkan.

Kedua, klasifikasi anak EBD berdasarkan derajat penyimpangan

a. Anak dengan EBD ringan: menunjukkan penyimpangan emosi dan penyesuaian masih dalam taraf permulaan dan ringan, namun ada gangguan dalam perkembangan dirinya. Contoh perilakunya adalah membolos sekolah, malas mengerjakan PR, tidak mau mengikuti upacara, mengganggu teman, dan mudah marah.

b. Anak dengan EBD taraf sedang: menunjukkan penyimpangan emosi dan penyesuaian terhadap lingkungan bertaraf sedang.

Contoh perilakunya adalah mencuri di sekolah dan di luar sekolah, merusak fasilitas umum, tergabung dalam gank tertentu.

c. Anak dengan EBD taraf berat: menunjukkan emosi yang tidak stabil, perilaku labil atau bahkan pelanggaran hukum karena mengganggu ketertiban masyarakat. Termasuk anak yang menunjukkan tindakan menyakiti binatang dengan cara sadis.

Namun sekali lagi, dalam melakukan penilaian adanya gangguan emosi dan perilaku perlu hati-hati. Inilah pentingnya identifikasi yang bisa dilakukan oleh guru sebelum membuat kesimpulan bahwa anak mengalami gangguan emosi dan perilaku. Setidaknya observasi terkait adanya gannguan emosi dan perilaku pada anak dilakukan minimal 6 bulan. 

Upaya Mengenali Anak dengan Gangguan Emosi dan Perilaku



Identifikasi anak dengan gangguan emosi dan perilaku

Perlu Kawan Hamimku pahami bahwa berdasarkan ciri koginitf, sosial, emosi, dan fisik seringkali anak-anak yang banyak bertingkah, kelebihan gerak, dan nakal dalam hubungan sosialnya tampak wajar jika disandarkan pada fase perkembangannya. Sehingga dalam kasus tertentu perilaku-perilaku tersebut masih dapat ditolerir sebagai manifestasi dari usia mereka. Namun ada kalanya tingkat perilaku dan emosi menunjukkan adanya gangguan yang tidak disadari oleh orang-orang sekitarnya, termasuk guru di sekolah.

Nah inilah alasan menjadi pentingnya untuk guru mendapatkan wawasan terkait anak dengan gangguan emosi. Guru memiliki peran penting untuk lebih peka atas gejala yang dimunculkan oleh anak di kelas maupun sekolah.

Profesor Hallahan dan Kaufman merumuskan ciri-ciri gangguan emosi dan perilaku biasanya dibagi menjadi dua macam, yaitu externalizing behavior dan internalizing behavior

Externalizing behavior memiliki dampak langsung atau tidak langsung terhadap orang lain, contohnya perilaku agresif, membangkang, tidak patuh, berbohong, mencuri, dan kurangnya kendali diri.

Sedangkan Internalizing behavior
mempengaruhi siswa dengan berbagai macam gangguan seperti kecemasan, depresi, menarik diri dari interaksi sosial, gangguan makan, dan kecenderungan untuk bunuh diri. Kedua tipe tersebut memiliki pengaruh yang sama buruknya terhadap kegagalan dalam belajar di sekolah.

Kedua hal tersebut bisa menjadi alarm sederhana guru untuk melakukan observasi lebih terhadap anak yang menunjukkan gejala gangguan tersebut melalui identifikasi.

Contoh lembar identifikasi untuk observasi kondisi anak dengan resiko EBD. 
Lembar identifikasi anak dengan gangguan emosi dan perilaku
Identifikasi yang dilakukan merupakan langkah awal bagi guru untuk mengetahui kondisi anak apakah pertumbuhan/perkembangannya termasuk normal atau mengalami gangguan emosi dan perilaku. Dengan kata lain, selain guru meningkatkan wawasan terkait anak dengan gangguan emosi dan perilaku. Upaya lain yang bisa dilakukan guru adalah melakukan identifikasi.
Identifikasi juga menjadi kunci keberhasilan proses pendidikan anak. 
Dalam program pendidikan, ada lima fungsi kegiatan identifikasi anak dengan kebutuhan khusus  , yaitu

1. Penjaringan (screening), yaitu menandai gejala anak dengan gangguan emosi dan perilaku di lingkungan kelas atau sekolah dengan menggunakan alat identifikasi yang telah ditetapkan, sehingga akan dapat dibedakan antara anak dengan gangguan emosi dan perilaku dengan siswa-siswa normal atau berkebutuhan khusus lain.

2. Pengalihtanganan (referal), yaitu menetapkan apakah anak cukup ditangani oleh guru di sekolah saja atau perlu melibatkan pihak atau ahli yang berkompeten.

3. Klasifikasi,
yaitu kegiatan memilah-milah mana anak dengan gangguan emosi dan perilaku yang memerlukan penanganan lebih lanjut dan mana yang langsung dapat mengikuti pelayanan pendidikan khusus di kelas reguler.

4. Perencanaan pembelajaran, yaitu penyusunan program pembelajaran yang diindividualisasikan sesuai dengan setiap jenis dan tingkat anak dengan gangguan emosi dan perilaku hasil klasifikasi.

5. Pemantauan kemajuan belajar,
untuk mengetahui keberhasilan program pembelajaran dalam kurun waktu tertentu, serta peninjauan atas kegagalan program serta beberapa aspek yang berkaitan, seperti diagnosis yang tidak tepat, atau pelaksanaan program yang perlu diperbaiki.

Identifikasi merupakan langkah awal untuk bisa mengenali dan menentukan penanganan yang tepat untuk anak sesuai dengan gangguan yang dialaminya. 

Pihak yang terlibat identifikasi anak gangguan emosi dan perilaku
Yups, yak hanya guru yang memiliki peran dalam mengatasi gangguan emosi dan perilaku pada anak. Akan tetapi perlunya kolaborasi berbagai pihak seperti orang tua, profesional, dan lembaga yang berkaitan.


Kolaborasi Adalah Kunci Untuk Menurunkan Prevalensi

“ Prevalensi anak dengan gangguan emosi dan perilaku terdapat 2 % dari anak usia sekolah.” ( Kaufman dan Hallahan, 1982)
Data dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menunjukkan bahwa prevalensi gangguan mental emosional pada penduduk berumur kurang dari atau sama dengan 15 tahun lebih banyak jumlahnya pada tahun 2018 dibandingkan pada tahun 2013 (Kemenkes RI, 2018). Artinya prevalensi anak-anak yang memiliki gangguan mental emosional meningkat dari tahun 2013 hingga tahun 2018 dengan usia 15 tahun yang merupakan usia sekolah.

Fakta bahwa anak dengan gangguan emosi dan perilaku meningkat dari tahun ke tahun. Maka hal ini menjadi PR bersama kita semua. Selain keempat faktor yang menyebabkan munculnya gangguan emosi dan perilaku pada anak.

Di era digital saat ini, tantangan zaman bagi para orang tua maupun dunia pendidikan menjadi lebih besar. Studi yang dilakukan oleh Kementerian Kominfo di tahun 2014, menyatakan bahwa 98% anak tahu tentang internet dan sebanyak 79,5% adalah pengguna internet.

Berbagai penelitian menyebutkan bahwa mengungkapkan bahwa durasi penggunaan gadget bisa menyebabkan ketagihan gadget dan berakibat pada perkembangan otak anak karena mempengaruhi hormon dopamine yang berlebihan dan mengganggu kematangan fungsi prefrontal kortek yang mengatur emosi, kontrol diri, tanggung jawab, pengambilan keputusan dan nilai-nilai moral lainnya.

Dengan kata lain, gadget bisa merupakan faktor resiko anak EBD. Maka dari itu mengatasi situasi yang komplek ini perlu kesadaran dari orang tua, guru atau sekolah, dan pemerintah untuk bisa menurunkan prevalensi anak dengan gangguan emosi dan perilaku.

Dengan optimisme menyiapkan generasi emasi di tahun 2045, kita bisa melakukan kolaborasi untuk generasi yang lebik baik!
Hamimeha
Hamimeha
Bismillah, lahir di Pulau Garam, tumbuh di kota Santri, menetap di kota Pahlawan., Saat ini suka berbagi tentang kepenulisan-keseharian-dan parenting., ● Pendidik, ● Penulis 11 buku antologi sejak 2018, ● Kontributor di beberapa media online lokal dan nasional sejak 2019, ● Praktisi read a loud dan berkisah, ● Memenangkan beberapa kompetisi menulis dan berkisah, ● Narasumber di beberapa komunitas tentang parenting dan literasi. ●

Related Posts

44 komentar

  1. Baru tahu ada istilah anak tunalaras. Dulu waktu SD, saya punya teman kayak gini. Perempuan pula. Semua anak di-bully. Anehnya, dihukum guru berapa kalipun nggak pernah jera. Sekarang kalau ketemu teman lama, cerita tentang dia jadi kenangan buruk tersendiri.

    BalasHapus
  2. Guru emang kudu cepat tanggap dan paham dengan apa yang terjadi dengan murid dan apa saja kebutuhannya. Dengan analisa yang tepat dan berdasar, bisa lebih cepat mengambil tindakan dan keputusan ya

    BalasHapus
  3. setuju sekali kak untuk bisa menurunkan prevalensi anak dengan gangguan emosi dan perilaku memang membutuhkan peran serta orang tua, guru serta semua pihak ya

    BalasHapus
  4. Hemmmm, serem juga ya efeknya kalau sudah dewasa nanti, tapi untungnya masih bisa dicegah ya. BTW, pada poin (b) disebutkan keterlibatan pihak ketiga yang ekstrim berbeda dalam pendidikan anak, apakah pihak ketiga yang dimaksud bisa ART di keluarga atau bahkan dari saudara keluarga itu sendiri ya??!

    Peran serta orang tua sangat penting untuk mencegah atau menurunkan prevalensi anak dengan gangguan emosi dan perilaku. Very nice sharing !!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kak.. betul. Kadang pola asuh yang bersebrangan..misal nih yang sering terjadi. Ortu pola asuhnya berbeda dg neneknya.

      Ini juga bisa jadi faktor memicu anak dg ebd.

      Hapus
  5. Sebenarnya gangguan emosi dan prilaku pada anak ini, sudah bisa dideteksi sejak kecil ya, Mbak. Namun terkadang, ada juga orang tua yang abai. Termasuk di lingkungan kampung tempat tinggal saya dulu. Mereka menganggap, aah.. namanya anak-anak. nanti baikan lagi. Padahal justru kalau dibiarkan, jadi tidak terkontrol lagi.

    BalasHapus
  6. banyak sekali ya ternyata faktor-faktor pembuat seseorang khususnya si anak mengalami gangguan emosi dan perilaku, jadi makin banyak ilmu yang saya dapat dalam dunia parenting

    BalasHapus
  7. lengkap banget tulisannya mba. memang perlu identifikasi menyeluruh yaa kalau anak ad gangguan emosi dan perilaku, sebaiknya juga melibatkan profesional agar lebih tepat

    BalasHapus
  8. Mantulll maaakk, lengkap banget. Berarti untuk klasifikasi anak dengan gangguan emosi dan perilaku harus melakukan observasi dan identifikasi karakteristik perilaku internal dan eksternal dulu ya. emang ngga bisa dari sekolah aja sih, peran orang tua yang sangat menentukan karena lebih lama di rumah daripada di sekolah. Belum lagi paparan gadget yang tanpa batas ternyata bisa jadi faktor risiko anak EBD.

    BalasHapus
  9. Mbak Hamin, tanya, sindrom alkohol janin itu seperti apa? apakah selama kehamilan si ibu suka megonsumsi alkohol? Begitukah?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul pak.. jadi konsumsi ibu semasa hamil.

      Hapus
  10. Gangguan emosi pada anak harus diredam dari berbagai pihak. Ya orangtua, sekolah dan lingkungan yang mendukung juga berarti ya kak

    BalasHapus
  11. Keren banget dah video youtube nya, jadi lebih gamblang penjelasannya dengan audio visual.
    Banyak pihak yang harus paham dengan EBD ini. Orang tua dan guru di sekolah jangan sampai tidak paham agar tidak gampang melabeli anak nakal tanpa dasar yang kuat

    BalasHapus
  12. Terima kasih banyak untuk materinya, Kak. Berguna banget nih untuk memperluas wawasan dan membuat kita lebih peka terhadap kondisi kesehatan mental anak.

    BalasHapus
  13. Keluarga dan lingkungan bs jd pemicu si anak pny emosi yg kurang stabil sih. Mknya kita selaku ortu emg hrs mengantisipasi dan menjaga anak sebaik mgkn biar emosinya terjaga ya kak.

    BalasHapus
  14. Keren artikelnya semoga orang tua jadi lebih waspada.karena anak yang nakalnya kebangetan lama lama bisa bikin sesama orang tua atau orang tua dan guru berantem

    BalasHapus
  15. Hmmm keknya ada nih anak di kelasnya anakku yang kek gini mba Hamim. Cuma pernah yaa gitu dikasih saran sama guru untuk segera berkonsultasi sama ahlinya, tapi doi menampik dan denial gitu lah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, tidak sedikit para orang tua atau dewasa bersikap demikian..semacam normalisasi. Meskipun sebenrnya penilaian atas adanya gangguan itu perlu mempertimbangkan fase perkembangan anak. Tapi juga gak boleh abai. Bisa disimak videonya mbak..semoga semakin memperjelas. 🙏

      Hapus
  16. Faktor keluarga dan lingkungan memang menentukan sekali ya Mbak, jadi ingat murid-murid aku dulu. Hampir setiap hari selalu ada aja kelakuannya.

    BalasHapus
  17. Artikelnya wajib banget dibaca siapa pun yang berada di sekitar anak2. Semoga kita lebih aware sama gangguan emosi dan perilaku kurang baik pada anak yaa

    BalasHapus
  18. Selain guru harus tanggap, ortunya juga ya. Sekitar beberapa waktu lalu saya pernah ikut kelas metode Montessori gitu, pernah sedikit bahas tentanh anak kecil itu memang harus diawasi tumbuh kembangnya. Kalau ngga sesuai, kurang pengawasan, dan ortu ngga tanggap bisa jadi EBD ini

    BalasHapus
  19. Salah satu cara menurunkan prevalensi anak dengan gangguan emosi dan perilaku adalah dengan membatasi akses terhadap gawai ya mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yups...bisa banget. Karena sudah banyak studi ilmiah menunjukkan dampak negatif interaksi anak dg gadget ini.

      Hapus
  20. Sudah nonton juga videonya dan memang utuh edukasi lebih babyak supaya anak anak tetap aman dari teman demikian atau sifat demikian

    BalasHapus
  21. faktor keluarga dan budaya nih yang paling berpengaruh terhadap perilaku anak, menurutku. relate soalnya, aku rasakan di anak-anakku dan temennya yang sering "bikin masalah" karena ternyata dirumahnya gak baik-baik aja

    BalasHapus
  22. Banyak sekali perenungan yang terjadi ketika anak mengalami gangguan emosi.
    Apa yang salah dan mengapa bisa terjadi?
    Semoga dengan penanganan yang tepat, anak bisa bertumbuh dengan baik, sehat dan mampu menjalin kehidupan sosial yang sehat pula.

    BalasHapus
  23. Penangannya memang tidak mudah ya untuk anak dengan gangguan emosi. Walau begitu bukan berarti tidak bisa diatasi ya Mba. Karena ada beberapa tindakan untuk mengatasi anak dengan gangguan emosi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada yang pada akhirnya sembuh mbak. Dengan catatan anak dg EBD taraf ringan sehingga bisa dilakukan intervensi lebih dini.

      Meski pun tidak seratus persen katakanlah, namun berkurang lah atau setidakmya anak bisa memgendalikan dirinya .

      Hapus
    2. Kalau yang taraf parab apakah tetsp bida sembuh atau hanya mengurangi saja? Apakah terbawa hingga dewasa juga?

      Hapus
    3. kalo parah misal sampai dia ada sekolahnya sendiri namanya SLB E. Jika dibilang apa sembuh kayake lebih tepat jika berkurang ya. dengan upaya mengendalikan emosi dan perilakunya.. sebab kalo tidak ditangani sejak dini sangat mungkin terbawa hingga dewasa. Inilah pentingnya identifikasi sejak dini

      Hapus
  24. Kalau tanda-tanda Anak dengan Gangguan Emosi dan Perilaku ini terlihat, sebaiknya memang menggunakan ahlinya untuk screening. Sehingga mendapatkan perhatian yang tepat. Semoga dengan lingkungan yang kondusif, kita semua bisa melindungi anak-anak kita untuk menjadi anak-anak generasi yang kuat dan beradab.

    BalasHapus
  25. Wah, luar biasa ini informasinya. Kudu dishare ke banyak orang. Apalagi, saat ini jarang orangtua yang tanggap kalau anaknya memiliki gangguan. Seringnya hanya melabeli anak nakal, bandel atau susah diatur. Tapi tidak pernah mencoba mencari tahu penyebab asalnya.

    BalasHapus
  26. Informatif dan inspiratif artikelnya, Mba..Ternyata ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya gangguan emosi dan perilaku yaitu faktor biologi, faktor lingkungan atau keluarga, faktor sekolah, dan faktor masyarakat. Memang ya dibutuhkan kolaborasi semua pihak untuk solusi terbaik

    BalasHapus
  27. Baru tahu kalau perilaku anak yang cenderung penuh emosi ini ada definisinya, kebetulan aku pernah melihat anak dengan gangguan seperti ini di sekolah anakku, sampai gurunya kadang kewalahan menghadapinya karena mudah emosi dan cenderung menganggu temannya yang lain. Solusi menghadirkan orangtuanya kadang ngak berhasil karena orangtua terlihat tidak peka jika perilaku ini akan menyulitkan anak di kemudian hari.

    BalasHapus
  28. Istilah tunalaras ini baru saya dengar Mbak. Begitu juga dengan definisi EBD. Melihat perilaku anak sekarang, rasanya memang kenakalan anak dan remaja semakin meningkat. Terlepas dari faktor lingkungan dan orangtua, sepertinya dipengaruhi juga dengan mudahnya akses ke dunia digital tanpa kontrol yang tepat ya. Semua saling mempengaruhi, bahkan untuk hal-hal yang sifatnya negatif. Memang kolaborasi antara semua pihak termasuk masyarakat jadi kunci penting untuk mengatasi ini semua ya.

    BalasHapus
  29. Guru memang wajib upgrade diri karena mereka berperan dalam masalah emosional anak..

    BalasHapus
  30. Baru paham saya dengan tuna laras
    Pendampingan orang tua benar-benar diperlukan agar anak-anak tidak kehilangan sosok panutan, karena guru pertama dan utama tetap orang tua atau wali

    BalasHapus
    Balasan
    1. tapi tunalaras ini terlalu luas untuk menggambarkan anak EBD mbak. jadi EBD didefinisikan sendiri bahkan ada kajian sendiri kalo di luar . Inilah semangat hadirnya artikel ini

      Hapus
  31. Kompleks juga ya permasalahan gangguan emosi dan perilaku ini. Biasanya makin jauh dari kehidupan sosial, maksudnya kurang bertatap muka dan bersosialisasi secara langsung dengan orang lain, berpengaruh juga terhadap perkembangan emosi anak.

    BalasHapus
  32. jadi orang tua juga gak boleh abai ya, kalau memang merasa kesulitan menghadapi anak, aku sih langsung ke ahlinya aja mba, takut salah bisa berkelanjutan ya kalau dibiarin, huhu kompleks banget masalah emosi ini :)

    BalasHapus
  33. wah aku waktu kecil suka kayak gitu, refleks suka mukul. tapi abis itu kerasa banget nyesel dan ngerasa jahat. pelan-pelan banget coba ngontrol diri sendiri sampai alhamdulillah akhirnya bisa. dulu gatau kenapa kayak gitu, tapi pas udah gede jadi mikir mungkin memang faktor keluarga yang keras

    BalasHapus
    Balasan
    1. jika masih usia anak usia dini atau pun sekolah dasar misalnya itu perlu mempertimbangkan fase perkembangan mbak. Karena pengendalian emosi itu memang proses ya.. itulah mengapa anak2 itu diajari perlu mengenali emosi dan menvalidasinya terus cara mengalirkannya. Sayangnya gak semua ortu aware dg ini :(

      Hapus
  34. Memang kompleks ya mbak permasalahan gangguan emosi ini

    Setiap blogwalking artikel mbak hanim, aku selalu terpukau dengan infografisnya

    BalasHapus
  35. Ternyata malnutrisi berpengaruh pada pola emosi anak sejak dalam kandungan ya. Harus hati-hati sejak mengandung ya supaya bayi bahagia dan tumbuh sehat

    BalasHapus

Posting Komentar