=Hamimku

Mengenal Perbedaan Read Aloud, Mendongeng, dan Berkisah

Posting Komentar
Mengenal Read aloud, mendongeng, dan berkisah
Hai Kawan Hamimku, bagaimana kabarnya?
Aku berdoa Kawan Hamimku dalam kondisi sehat ya.

Di kesempatan kali ini aku sedikit memberi penjelasan istilah dari beberapa aktivitas literasi yang sering didefinisikan sama, padahal konteksnya berbeda.
Apaan tuh?
Yups, pernah mendengar istilah read aloud atau membacakan nyaring?
Atau lebih familiar dengan kata “mendongeng”? Mungkin biasa mendengar aktivitas “berkisah”?

Seringkali ketiga aktivitas ini disamakan oleh kebanyakan orang. Namun sejatinya, ketiganya memiliki tujuan dan konteks yang berbeda saat dilakukan. Yuks kita bahas sedikit lebih dalam seputar read aloud, mendongeng, dan berkisah ini ya!

Mengenal Definisi Read Aloud, Mendongeng, dan Berkisah

Perlu Kawan Hamimku ketahui bahwa hal paling mudah mengetahui sesuatu itu dimulai dari memaknai definisinya. Aku merasa inilah literasi dasar yang perlu dimiliki oleh setiap orang, iya gak sih? Oke, tak berlama-lama kita simak bersama ya!

Definisi Mendongeng, berkisah, dan read aloud berdasarkan KBBI

Kita mulai definisi berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Menurut KBBI

a. Mendongeng

Mendongeng merupakan kata kerja yang kata dasarnya adalah dongeng. Arti dongeng menurut KBBI adalah cerita yang tidak benar-benar terjadi (terutama tentang kejadian zaman dulu yang aneh-aneh). Sedangkan dongeng adalah menceritakan dongeng.

b. Berkisah

Serupa dengan mendongeng sebagai kata kerja. Berkisah adalah termasuk jenis kata kerja yang kata dasarnya adalah kisah. Arti kisah menurut KBBI adalah cerita tentang kejadian (riwayat dan sebagainya) dalam kehidupan seseorang dan sebagainya; kejadian (riwayat dan sebagainya. Sedangkan berkisah adalah bercerita tentang.

c. Read Aloud atau Membacakan Nyaring

Read Aloud merupakan kata berbahasa inggris yang terjemahan dalam bahasa Indonesia adalah membacakan nyaring. Berdasarkan KBBI, membacakan memiliki arti membaca nyaring (melisankan tulisan) untuk orang lain atau mengucapkan (tentang doa, mantra, dan sebagainya). Tanpa kata nyaring, arti membacakan sudah menunjukkan aktivitas membaca yang dikeraskan atau disuarakan.

Secara sekilas ketiganya merupakan aktivitas yang berkaitan dengan lisan. Mungkin inilah yang menjadikan ketiganya dianggap merupakan aktivitas yang sama. Namun jika dipandang berdasarkan konteksnya maka definisi ketiganya akan terasa bedanya. Yuks kita simak!

Definisi Mendongeng, berkisah, dan read aloud berdasarkan konteksnya

Berdasarkan lingkup literasi, konteks pendefinisian ketiga aktivitas literasi ini memberikan gambaran dengan tujuan dan praktik yang berbeda. Penjelasan lengkapnya sebagai berikut :

a. Mendongeng

Mendongeng seringkali disebut juga storytelling. Mendongeng adalah menyampaikan cerita secara lisan tanpa bergantung pada teks tertulis, biasanya dengan gaya yang lebih ekspresif dan imajinatif. Cerita yang disampaikan bisa berupa cerita rakyat, legenda, kisah imajinatif, atau cerita yang sudah diingat oleh pencerita.

Menariknya, mendongeng merupakan bagian dari tradisi oral storytelling, yang dalam kajian literasi dipahami sebagai praktik budaya yang membantu anak memahami struktur cerita dan makna melalui pengalaman lisan. Tujuan dari mendongeng adalah untuk membangun kedekatan emosional dan imajinasi. Akan tetapi ketika mendongeng tidak selalu memperkenalkan anak pada struktur bahasa tulis.

c. Berkisah

Berkisah adalah menceritakan pengalaman atau peristiwa kepada anak secara naratif, baik pengalaman nyata maupun kisah teladan yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Berbeda dengan mendongeng yang biasanya berbentuk cerita fiksi atau folklor, berkisah sering kali lebih dekat dengan pengalaman personal atau refleksi kehidupan.

Lebih dalam, berdasarkan kajian perkembangan anak, praktik berkisah berkaitan dengan narrative interaction antara orang tua dan anak, yang berperan penting dalam perkembangan bahasa dan pemahaman sosial anak. Sederhananya, berkisah lebih dekat dengan interaksi yang interaktif antara minimal dua orang. Seperti interaksi orang tua dan anak dalam bersama-sama membangun cerita, misalnya dengan mengingat kejadian yang baru dialami, menceritakan pengalaman, atau membicarakan alur sebuah cerita.

Apa itu narrative interaction
Seringkali juga berkisah ini merujuk pada pembacaan atau menceritakan kembali kisah dari para nabi atau rasul maupun tokoh yang dianggap legendaris. Tujuan dari berkisah adalah membantu perkembangan bahasa lisan dan relasi, tetapi tidak secara langsung melatih keterampilan literasi berbasis teks.

c. Read Aloud atau Membacakan Nyaring

Berbeda dengan mendongeng dan berkisah. Read aloud adalah aktivitas membacakan teks tertulis dengan suara keras kepada anak, sehingga anak dapat mendengar bahasa buku sekaligus melihat teks dan ilustrasinya. Dalam praktiknya, orang tua atau pendidik membaca isi buku secara langsung sambil melibatkan anak melalui ekspresi suara, intonasi, atau pertanyaan sederhana. Meskipun sama-sama melibatkan lisan dan bersuara. Namun secara konteks dan praktiknya, buku menjadi aktor utama dalam aktivitas literasi ini.

Praktik read aloud banyak digunakan dalam kajian emergent literacy (literasi awal) dan home literacy environment (lingkungan literasi di rumah ) yang menunjukkan bahwa membacakan buku secara rutin berpengaruh pada perkembangan bahasa dan kesiapan membaca anak. Read aloud berfungsi sebagai praktik literasi keluarga yang memperkuat praktik literasi di rumah dan menjadi jembatan awal kesiapan membaca anak.
Home Literacy Environment (HLE) adalah lingkungan literasi yang terbentuk dari kebiasaan dan interaksi bahasa yang terjadi di rumah antara orang tua dan anak. HLE tidak hanya berkaitan dengan jumlah buku yang dimiliki keluarga, tetapi juga bagaimana buku dan bahasa hadir dalam keseharian. 
Kabar baiknya, perbedaan read aloud dengan mendongeng dan berkisah karena secara langsung memperkenalkan anak pada bahasa tulis, struktur teks, dan praktik literasi yang sistematis. Oleh karena itu, read aloud dipandang sebagai strategi intervensi yang relevan untuk meningkatkan kualitas lingkungan belajar di rumah (Home Learning Environment), khususnya pada keluarga dengan anak usia dini.

Nah, bagaimana menurut Kawan Hamimku setelah memahami definisi berdasarkan KBBI dan konteks dari read aloud, mendongeng, dan berkisah ini? Apakah mulai terasa lebih jelas bahwa ketiganya merupakan aktivitas yang berbeda? Yups, meski berbeda namun ketiganya adalah aktivitas literasi yang baik untuk dilakukan di rumah. Dengan memahami perbedaannya maka memperluas wawasan kita sehingga lebih mindful saat melakukannya.

Ciri Utama Mendongeng, Berkisah, dan Read Aloud Ketika Praktik

Oke Kawan Hamimku agar semakin jelas gambarannya, berikut aku ulas terkait ciri utama dan fokus dari mendongeng, berkisah, dan read aloud. Yuks simak bersama!

Fokus dan Ciri Utama Mendongeng

Pada dasarnya, aktivitas literasi itu berfokus pada perkembangan bahasa. Namun, ada nilai lebih saat mempraktikannya. Seperti mendongeng memiliki fokus pada pengalaman emosional dalam cerita, imajinasi dan kreativitas. kedekatan antara pencerita dan pendengar, dan pesan moral atau nilai kehidupan. Biasanya mendongeng berisi cerita rakyat, legenda, ataupun cerita-cerita fiktif imajinatif yang menekankan dan kuat pada penanaman nilai moral dan value dari cerita yang disampaikan.

Ciri utama Mendongeng;

1) Cerita disampaikan secara bebas dan ekspresif menggunakan bahasa lisan atau bertutur
2) Penutur dapat mengubah alur, bahasa, atau tokoh
3) Mengandalkan imajinasi dan daya tarik verbal
4) Fokus pada nilai moral, emosi, dan daya khayal

perbedaan mendongeng, read aloud, dan berkisah
Fokus dan Ciri Utama Berkisah

Lebih luas dan sederhana, berkisah memiliki fokus pada berbagi pengalaman hidup, menanamkan nilai dan makna, membangun hubungan emosional, membantu anak memahami kehidupan melalui cerita. Berkisah ini sangat baik karena erat dan dekat dengan aktivitas sehari anak-anak dan orang tua. Apapun yang terjadi, dialami, ataupun kondisi di sekitar bisa dijadikan bahan berkisah. Meskipun tidak familiar orang menjadikan interaksi berbincang ini dengan sebutan berkisah. Sebab, orang lebih merujuk berkisah dengan cerita-cerita riwayat kisah terdahulu dan ini tetap baik. Hanya saja menjadikan definisi berkisah menjadi sempit. Oleh karena itu, pembahasan ini akan menjadikan perspektif kita lebih luas.

Ciri utama Berkisah;

1) Bisa terjadi tanpa buku atau persiapan khusus
2) Bersifat kontekstual dan personal
3)Bahasa lebih sederhana dan fleksibel
4) Fokus pada komunikasi dan hubungan sosial

Read Aloud atau Membacakan Nyaring

Perbedaan yang mencolok dari read aloud dengan mendongeng dan berkisah adalah peran buku. Fokus utama read aloud adalah mengenalkan bahasa buku, memperkaya kosakata, membantu anak memahami struktur bahasa dan cerita, membangun minat terhadap membaca. Melalui read aloud anak akan belajar tentang bahasa di buku atau bahasa tulis. Interaksi segitiga yang terbentuk saat read aloud antara pembaca, pendengar, dan buku menjadikan aktivita sini fokus pada aktivitas membaca. Jadi penting sekali gesture membaca terlihat di aktivitas ini.

Ciri utama dari Read Aloud adalah;

1) Menggunakan buku cetak/digital sebagai sumber utama
2) Teks dibaca apa adanya (tidak diimprovisasi bebas), bahkan diupayakan untuk menunjukkan gestur membaca seperti menunjukkan teks dan gambar
3) Ada interaksi seperti bertanya, menunjuk gambar, mengajak anak menebak bahkan sejak awal ketika membaca cover buku
4) Fokus pada bahasa, kosakata, struktur kalimat, dan pemahaman makna

Mengenal Perbedaan adalah Upaya Mendapatkan Pendekatan yang Tepat

“Read aloud, mendongeng, dan berkisah mungkin berbeda caranya, tetapi semuanya menghadirkan satu hal yang sama yakni ruang bagi anak untuk tumbuh bersama bahasa dan cerita.”
Aktivitas read aloud, mendongeng, dan berkisah adalah tiga bentuk aktivitas literasi yang sama-sama baik untuk dilakukan bersama anak di rumah. Ketiganya memberi ruang bagi anak untuk mendengar bahasa, memahami cerita, memperkaya kosakata, dan merasakan kedekatan emosional dengan orang tua.

Dalam praktik sehari-hari, batas di antara ketiganya sering kali tidak selalu kaku. Orang tua bisa saja membaca buku lalu menambahkan cerita atau menceritakan pengalaman sambil mengaitkannya dengan kisah yang pernah dibaca. Kolaborasi antara ketiganya sangat memungkinkan dan tetap baik. Tujuan memahami perbedaannya bukan untuk membatasi cara bercerita, melainkan untuk membantu kita lebih sadar akan ragam cara mendampingi anak melalui bahasa dan cerita.

Harapannya, mengetahui karakter masing-masing, orang tua dapat memilih pendekatan yang paling sesuai dengan situasi dan kebutuhan anak. Poin yang paling penting bukanlah metode mana yang digunakan, tetapi kehadiran orang tua, interaksi yang hangat, dan kesempatan bagi anak untuk tumbuh dalam lingkungan yang kaya akan cerita dan bahasa. Setiap kita sedang mengupayakan untuk memberikan pembekalan literasi dengan lebih baik untuk anak kita ya Kawan Hamimku!
Hamimeha
Hamimeha
Bismillah, lahir di Pulau Garam, tumbuh di kota Santri, menetap di kota Pahlawan., Saat ini suka berbagi tentang kepenulisan-keseharian-dan parenting., ● Pendidik, ● Penulis 11 buku antologi sejak 2018, ● Kontributor di beberapa media online lokal dan nasional sejak 2019, ● Praktisi read a loud dan berkisah, ● Memenangkan beberapa kompetisi menulis dan berkisah, ● Narasumber di beberapa komunitas tentang parenting dan literasi. ●
Terbaru Lebih lama

Related Posts

Posting Komentar