=Hamimku

Mengajarkan Makna Ibadah Qurban di Momen Iduladha pada Anak Usia Dini

8 komentar
Mengajarkan makna ibadah qurban lada anak
Hai Kawan Hamimku!

Tak terasa jika kita sudah sampai di penghujung bulan Dzulhijjah 1443 H. Bicara tentang momen Dzulhijjah, salah satu bulan haram ini terdapat ibadah istimewa lho Kawan Hamimku.

Apa itu?

Yups, momen hari raya dan ibadah qurban. Iduladha yang dirayakan setiap tanggal 10 Dzulhijjah memiliki sejarah penuh pengorbanan yang penuh makna. Sehingga lahirlah syariat ibadah qurban yang dilaksanakan sejak tanggal 10 hingga 13 Dzulhijjah.

Hari setelah hari raya idul qurban disebut hari tasyrik, hari di mana umat Islam dilarang berpuasa karena pada hari tasyrik adalah hari untuk makan dan minum. Wah menyenangkan ya!

Ohoo, tapi hakikatnya ada makna mendalam sejak memasuki bulan Dzulhijjah yang istimewa ini. Pasalnya, diantara keutamaan bulan Dzulhijjah terletak di 10 hari pertamanya.

Nah, dengan banyaknya keutamaan dan keistimewaan pada bulan Dzulhijjah dengan adanya momen ibadah qurban. Maka bagaimanakah cara mengajarkan makna ibadah qurban di momen Iduladha pada anak usia dini?

Kepikiran gak sih? Bahwa keistimewaan momen Iduladha perlu kita sampaikan kepada anak-anak bahkan sejak dini?

Jika merasa hal ini penting yuks deh simak ulasanku di bawah ini ya!

Sekilas Tentang Iduladha dan Ibadah Qurban


Sejarah berkurban di Iduladha
Asal mula tuntunan ibadah Qurban dilaksanakan berawal dari turunnya perintah Allah kepada Nabi Ibrahim yang bersedia mengorbankan anaknya yaitu Nabi Ismail sebagai bentuk kepatuhan terhadap perintah Allah.

Dalam Al-quran, kisah ini diabadikan dalam Qs.As-Shaffat ayat 102-110. Sungguh, historis lahirnya ibadah qurban ini merupakan sebuah ujian yang berat bagi keluarga Nabi Ibrahim kala itu.

Mulai dari perintah Allah SWT untuk menempatkan istrinya Hajar bersama Nabi Ismail putranya, yang saat itu masih menyusu di Mekkah . Tapi baik Nabi Ibrahim, maupin istrinya Siti Hajar, menerima perintah itu dengan ikhlas dan penuh tawakkal.

Heroik dan pentingnya peristiwa ini, Allah mengabadikannya dalam Qs. Ibrahim:37 ;
Ya Tuhan kami sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di suatu lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumahmu (Baitullah) yang dimuliakan. Ya Tuhan kami (sedemikian itu) agar mereka mendirikan shalat. Maka jadikanlah gati sebagia manusia cenderung kepada mereka dan berizkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. (QS Ibrahim: 37)
Masya Allah, inilah kisah yang menjadi tonggak sejarah sumber mata air yang diberkahi yakni air zam-zam. Diceritakan oleh Ibnu Abbas bahwa tatkala Siti Hajar kehabisan air minum hingga tidak biasa menyusui nabi Ismail, beliau mencari air kian kemari sambil lari-lari kecil (Sa’i) antara bukit Safa dan Marwah sebanyak 7 kali.

Di saat itulah, Allah mengutus malaikat jibril membuat mata air Zam Zam. Siti Hajar dan Nabi Ismail memperoleh sumber kehidupan. Tahukah Kawan Hamimku, peristiwa akan pencarian sumber mata air dengan berlari kecil sebanyak 7 kali itu menjadi salah satu rukun ibadah Haji yaitu Sa'i. Sa'i → lari-lari kecil dari Shafa ke Marwah.

Setelah beberapa tahun kemudian, akhirnya Nabi Ibrahim kembali lagi ke Mekah untuk menemui Siti Hajar dan Ismail. Nabi Ibrahim tentu saja bahagia, apalagi Ismail sudah tumbuh menjadi anak yang sehat (dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa pada saat itu usia Ismail kira-kira 6-7 tahun). Namun, belum lama menikmati pertemuannya dengan keluarga tercintanya, Allah SWT memberikan ujian lagi kepada Nabi Ibrahim.

Artinya: Ibrahim berkata : “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu “maka pikirkanlah apa pendapatmu? Ismail menjawab: Wahai bapakku kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. InsyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.” (QS Aa-saffat: 102)

Melalui mimpi tersebut Allah SWT memberikan perintah kepada Nabi Ibrahim untuk menyembelih putranya, Ismail. Meski sempat diselimuti kebimbangan, namun karena perintah Allah Nabi Ibrahim lalu melakukan dialog kepada Nabi Ismail atas kesediaannya.

Mengejutkannya, jawaban Nabi Ismail ternyata bersedia untuk dijadikan kurban sebagaimana perintah dari Allah SWT. Masya Allah atas kesalehan dan ketaatan kedua insan mulia ini peristiwa besar turunnya ibadah qurban bermula.

Yakni ketika prosesi penyembelihan tiba, di ikatlah kedua tangan dan kaki Ismail di atas lantai. Lalu Nabi Ibrahim dengan memejamkan matanya, memegang pisau (parang)nya ke arah leher Nabi Ismail dan penyembelihan pun dilakukan. Namun, Allah SWT langsung mengganti posisi Nabi Ismail tersebut dengan domba yang diturunkan dari langit.

Masya Allah, sebuah kisah yang penuh perjuangan dan ujian keimanan ya Kawan Hamimku. Nilai keimanan inilah yang sepatutnya kita coba kenalkan dan pahamkan kepada anak-anak kita sejak dini.

Sebab jika bicara tentang keimanan itu bukan sekadar soal ritual ibadah semata. Melainkan nilai ketauhidan serta keyakinan akan kemuliaan agama Islam dalam menuntun kehidupan kita.

Nah, pasti kita menemukan banyak hikmah dari sejarah ibadah qurban yang heroik ini. Coba yuks kita sebutkan apa saja hikmah dibalik ibadah qurban? Lalu pentingkah anak tahu makan berkurban sejak dini?

Perlukah Anak Tahu Makna Berkurban di Saat Iduladha


Yups, melihat besarnya perjuangan dan makna dari sejarah hingga turunnya perintah berkurban kepada umat muslim di dunia ini. Tentu hal tersebut perlu diketahui dan pahami oleh kita semua.

Agar ibadah qurban yang hukumnya sunnah muakkad ini tetap menjiwai kehidupan anak kita di masa mendatang. Kelak mereka melaksanakan ibadah qurban sebab telah memahami makna dari kenapa harus melakukan ibadah qurban yang hanya dilakukan satu tahun sekali ini?

Sebuah riwayat Imam Bukhari. Rasulullah SAW bersabda:
"Barang siapa menyembelih hewan kurban sebelum salat (Idul Adha) maka sesungguhnya ia menyembelih untuk dirinya sendiri, dan barang siapa menyembelih kurban sesudah salat (Idul Adha) dan dua khutbahnya, sesungguhnya ia telah menyempurnakan ibadahnya, dan ia telah menjalani aturan Islam."

Makna dan Hikmah dalam Pelaksanaan Ibadah Qurban di Momen Iduladha

Sejatinya, untuk usia anak-anak lebih banyak melakukan sesuatu karena apa yang mereka lihat dari lingkungan dan orang terdekat. Akan tetapi menjadi lebih baik jika kita sebagai orang tua memberikan pemahaman tentang ini dan itu atas sebuah amal atau ibadah yang dilakukan oleh orang dewasa.

Misal tentang sholat, puasa, berhaji, bahkan ibadah qurban sekalipun. Sebaiknya anak-anak tahu alasan sederhana mengapa mereka perly melakukan ibadah tersebut. Bukan sekadae ibadah ritual atau rutinintas tanpa ruh. Mungkin di momen Iduladha bagi anak-anak, melihat hewan qurban adalah hal yang menarik.

Namun lebih dari itu, kita perlu memberikan penjelasan sederhana tentang makna dan hikmah ibadah qurban di Iduladha kepada mereka. Apa sajakah makna sederhana yang bisa kita sampaikan ke anak-anak tentang makna ibadah qurban?

Pertama, nilai ketakwaan

Kenalkan arti takwa, menurut KBBI takwa memiliki makna terpeliharanya diri untuk tetap taat melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya; 2 keinsafan diri yg diikuti dng kepatuhan dan ketaatan dl melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya; 3 kesalehan hidup;

Sedangkan, ketakwaan terdiri dari kata dasar takwa dengan imbuhan ke-an yang maknanya adalah perihal takwa. Dengan kata lain, ketakwaan adalah perwujudan kita sebagai seorang hamba Allah untuk menjadi pribadi yang takwa.

Salah satu bentuk takwa ini adalah menjalankan perintah Allah yaitu melakukan ibadah qurban. Sebagaimana Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail yang menunjukkan bentuk ketakwaannya dengan cara mengikuti perintah Allah yang diilhamkan melalui mimpi.

Dan ternyata ujian keimanan yang diberikan kepada Nabi Ibrahim dan Ismail terlewati dengan baik. Dalam rangka menjalankan ketaatan atas perintah Allah, Nabi Ismail pun bersedia menjalankan perintah dalam mimpi tersebut.

Atas ketaqwaan Nabi Ibrahim, kemudian Allah SWT menggantikan anaknya untuk disembelih dengan seekor domba.

Hikmahnya, kita belajar menjadikan perintah Allah sebagai prioritas atas kesenangan kita. Kadang kita memang diuji dengan hal-hal yang kita cintai. Apakah kita lebih mencintai Allah dan RasulNya atau hal lain tersebut?

Note to myself nih Kawan Hamimku, sungguh tak heran jika ada sebagian orang yang benar-benar mengupayakan dengan sungguh-sungguh untuk berkurban. Namun, ada pula yang belum bisa mencapai titik tersebut.

Harapannya, ketika anak kita memahami makna nilai ketakwaan yang terkandung dalam ibadah qurban ini menjadikan mereka untuk mudah melaksanakannya dikala lapang maupun sempit.

Semoga kita dimudahkan untuk menjalankan ibadah dengan versi terbaik kita ya Kawan Hamimku!

Kedua, nilai sosial

Makna nilai sosia ketika berkurban
Dalam kehidupan seorang muslim, kita banyak diajarkan tentang nilai sosial. Baik komunikasi, interaksi, bahkan sosialisasi. Agama yang paling bernilai sosial.

Nah, di momen Iduladha inilah kita bisa mengajarkan kepada anak-anak makna berbagi kebahagiaan melalui hewan yang kita kurbankan. Salah satu bentuk kepedulian juga kepada sesama.

Di hari raya kurban ini berlanjut di hari tasyrik, semua umat muslim bisa menikmati sajian daging hewan qurban. Hal ini juga memperlihatkan bahwa ciri khas dari agama Islam adalah mengajarkan untuk saling tolong-menolong.

Masya Allah, betapa indah ajaran agama yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad SAW ini. Sangat patut kita sampaikan ke anak-anak, alih-alih menarik menyaksikan hewan kurban dan euforia membagikan dagingnya.

Anak-anak yang terlibat dalam momen berkurban ini akan menyaksikan kebahagiaan dari orang-orang yang mendapatkan daging tersebut.

Ketiga, nilai kualitas pribadi seorang muslim

Pernahkah terpikir bahwa dengan kita berupaya sebaik mungkin untuk bisa berkurban di saat Iduladha tiba menjadi salah satu indikator kualitas diri kita sebagai seorang muslim?

Ah, kadang memang kita tak sadar jika secara finansial aman. Bagaimana dengan mereka yang kondisi keuangannya pas-pasan?

Langkah awal untuk bisa menjalankan ibadah qurban tentu harus membuat manajemen keuangan dengan baik. Ada karakter hemat, bersabar, kesadaran diri, sikap empati, hingga pengendalian diri sebagai akhlak terpuji seorang Muslim ketika seseorang memutuskan untuk melakukan ibadah qurban.

Tak kalah penting lagi, kita perlu memahamkan anak-anak bahwa berkurban bukan berarti kita boleh sombong apalagi pamer.
Poin penting yang bisa diajarkan ke anak-anak adalah perasaan bersyukur. Sebab kemampuan dalam melakukan ibadah qurban artinya Allah mencukupkan rezeki dan bisa berbagi dengan sesama.
Wah, satu langkah yang selalu bisa kita tanamkan di momen istimewa adalah memberikan wawasan terkait sebab dan tujuan atas suatu ibadah. Hal ini agar diketahui bahwa setiap ibadah ada banyak nilai kebaikannya. Tak terkecuali berkurban.

Tips Mengajarkan Anak Tentang Makna Ibadah Qurban Ketika Iduladha

Yups, sebenarnya mengajarkan anak tentang makna berkurban itu cukuplah mudah. Dan inipun pernah aku lakukan lho Kawan Hamimku semasa masih bekerja di instansi pendidikan. Aku juga sempat mempraktikan kepada balitaku.

Bagaimanakah caranya? Yuks simak tips dibawah ini!

1. Membaca buku

Sebagian orang memiliki kecenderungan malas jika membaca. Namun hal ini tentu berbeda bagi anak-anak yang membaca bukunya melalui gambar.

Pada umumnya, anak-anak suka dengan gambar hewan. Hal ini memudahkan kita untuk memceritakan kisah tentang sejarah turunnya ibadah qurban melalui kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail.

2. Berkisah

Hakikatnya setiap orang itu suka dengan cerita tak terkecuali anak-anak. Berkisah dengan cara menarik akan memudahkan anak-anak memahami makna berkurban.

Jika perlu kita bisa membuat peraga yang kreatif sehingga anak-anak akan lebih menjiwai kisah yang diperdengarkan.

3. Menonton video

Di era digital seperti saat ini, bukanlah rahasia lagi jika audio dan video banyak menggeser minat anal pada buku.

Eits, tapi media satu ini tetap bisa kita gunakan untuk sarana mengajarkan makna berkurban. Melalui kisah-kisah nabi ataupun video pendek tentang ibadah qurban.

Ingat, untuk balita sebaiknya setiap menonton didampingi oleh orang tua. Sembari didampingi sebaiknya orang tua memberikan penjelasan sederhana agar lebih interaktif.

Cara mengajarkan makna berkurban
4. Dialog

Menarik sekali jika kita membangun komunikasi dua arah dengan anak. Akupun melakukannya lho Kawan Hamimku. Biasanya aku lakukan menjelang tidur

Dialog ini memang lebih menarik karena percakapannya lebih interaktif. Akan tetapi, tantanggannya adalah orang tua harus siap dengan pertanyaan atau celetukan tak terduga dari anak. Sebaiknya, orang tua adalah bahan dan bekal membaca atau referensi sebelumnya hehehe.

5. Teladan

Anak itu peniru ulung. Apa yang mereka lihat maka itulah yang mereka pelajari. Nah, keteladanan adalah pembelajaran yang paling efektif bagi anak-anak.

Keteladan yang aku maksud adalah kita sebagai orang dewasa memberi contoh berkurban, ikut terlibat dalam pelaksanaan kegiatan berkurban di lingkungan setempat. Tindakan langsung ini secara otomatis akan melekat dalam kenangan anak-anak.

6. Melibatkan anak ikut berkurban

Tips terakhir ini sebaiknya dilakukan pada anak usia di atas lima tahun. Hal inipun pernah aku lakukan pada muridku semasa mengajar dulu.

Kami ada program "Belajar Berkurban". Anak-anak diajarkan menyisihkan uang saku untuk ditabung sebagai bentuk belajar berkurban. Inipun dipastikan tanpa paksaan dan disesuaikan dengan kemampuan anak-anak.

Poin dari melibatkan anak-anak bisa mulai dari menabung belajsr berkurban hingga proses menyembelih hewan kurban dan membagikannya ke penduduk sekitar.

Kegiatan ini tentu lebih berkesan bagi anak-anak sebab terlibat secara aktif di setiap proses ibadah qurban yang mereka lakukan. Wah, apakah Kawan Hamimku akan mulai mencobanya?

Setiap Amal Ada Ilmunya, Pelajarilah!

Mengajarkan makna ibadah qurban di momen Iduladha pada anak usia dini ini bertujuan agar mereka melakukan sesuatu atas dasad ilmu dan pemahamanan. Bukankah memang ilmu sebelum amal?

Nah, pemahaman yang baik akan membuat anak lebih memiliki kesadaran yang baik dalam beribadah. Pun ibadah qurban yang hanya dilakukan setahun sekali ini.

Dengan tahu sejarah, makna, dan hikmah yang ada dalam momen Iduladha tentang berkurban. Maka hal tersebut akan menjadi bekal bagi anak-anak menjalani kehidupan mereka di masa mendatang.

Namun perlu Kawan Hamimku ketahui, bahwa pembelajaran keimanan seperti ini tak bisa hanya dilakukan sekali. Kita harus senantiasa melakukannya sepanjang waktu. Di setiap momen sakral seperti ini manfaatkan sebaik mungkin untuk memupuk keimanan pada diri anak kita.

Semoga langkah kecil ini menjadi jalan bagi kita untuk membentuk generasi muslim yang sholih dan muslih. Aamiin

Hamimeha
Hamimeha
Bismillah, lahir di Pulau Garam, tumbuh di kota Santri, menetap di kota Pahlawan., Saat ini suka berbagi tentang kepenulisan-keseharian-dan parenting., ● Pendidik, ● Penulis 11 buku antologi sejak 2018, ● Kontributor di beberapa media online lokal dan nasional sejak 2019, ● Praktisi read a loud dan berkisah, ● Memenangkan beberapa kompetisi menulis dan berkisah, ● Narasumber di beberapa komunitas tentang parenting dan literasi. ●
Terbaru Lebih lama

Related Posts

8 komentar

  1. Setuju mba, hak2 yg begini sebaiknya sudah diajarkan ke anak sedari dini. Supaya mereka tahu kalo kurban memotong sapi atau kambing tidak hanya sekedar menyembelih. Tapi ada makna yg lebih besar.

    Utk skr ini aku lebih menekankan ttg berbagi dari ibadah kurban. Supaya jiwa sosial mereka berkembang, kalo ga semua orang seberuntung mereka hidupnya. Dengan berkurban, berarti juga membantu orang2 yg kekurangan dan mungkin hanya bisa merasakan daging setahun sekali.

    Pelan2 aku juga bakal mengajrkan poin2 lainnya kalo mereka sudah semakin besar

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masya Allah bener banget mbak. Memang pelan2 sih dan mana yang bisa diterima anak. Sebab anak2 secara pemikiran kan mereka masih sangat sederhana ya

      Hapus
  2. Pengenalan tentang qurban pada anak memang perlu dikenalkan sejak kecil.. Khususnya untuk bersyukur menyisihkan uang ditabung agar bisa berkurban.. Bercerita dengan buku juga berefek sekali pada sabila saat aku ceritakan hewan" qurban juga.. Pengenalan hewan apa saja yg bisa untuk dikurbankan, dll..

    BalasHapus
  3. Kalau aku jurinya, artikel ini sudah pasti jadi juara. Super lengkap tapi tidak menggurui. Dan cara edukasi ke anak tentang iduladha, ngena banget... Matursakalangkong Bok

    BalasHapus
  4. Duh... Ajib banget mb, memang segala sesuatu membutuhkan ilmu. Ilmu pun tidak akan berguna jika tidak diamalkan. Ini ada ilmu dan manfaatnya bagi orang lain yang di share mb Hamim, jadinya mendapatkan tambahan ilmu dan cara menanamkan nilai kepada anak

    BalasHapus
  5. Anak memang perlu di Ajarkan tentang makna qurban dan Hukum-hukumnya ya. Dan tips ini memang mantul banget dan sangat relate denga dunia anak-anak. Wajib dicoba nie

    BalasHapus
  6. Setuju sekali mbakyuu. Anak sedari kecil wajib ditanamkan pelajaran dasar agamanya, terutama makna ibadah qurban seperti ini. Sudah menjadi hak anak terhadap orang tua juga mendapat pengetahuan ini kan. Tipsnya bisa dicoba kalau udah nikah dan punya anak:p.

    BalasHapus
  7. melalui cerita idul adha ini seru pastinya y, sembari mengajarkan makna hari raya kurban ke anak. Semakin spill buku ttg hari kurban dong mbak, bila ada

    BalasHapus

Posting Komentar