itemscope='itemscope' itemtype='http://schema.org/WebPage'>
=Hamimku

Diary, Perempuan, dan Perasaannya

Posting Komentar



Diary, perempuan,dan perasaannya

Hai Kawan Hamimku, aku ingin nyanyi nih!
Dear diary ku ingin bercerita
Semalam aku bermimpi
Bermimpi bertemu dengannya.
Kan ku tulis semua cerita ini

Begitu senangnya hariku
Tenang saat kutatap matanya.

Yuhui, sapa yang membacanya sambil nyanyi?


Atau tiba-tiba keinget lagu ini sering lewat di beranda tiktok atau reels IG kita?

Yups!

Ini adalah lagu yang lagi trending di Tik Tok, lagu berjudul Dear Diary' yang dinyanyikan oleh Els Warouw. Emang melow sih dan agak ngegalau ya hahaha.

Oh ho, tapi aku tidak sedang bercerita tentang lagu ini kok. Tapi aku sedang ingin berceloteh tentang Diary, Perempuan, dan Perasaannya. Adakah yang suka nulis diary?

Wah kita samaan nih, aku mulai suka menulis diary sejak sekolah dasar lho dan makin rajin ketika menjadi perempuan perantau pertama kalinya. Ah, jika diingat diary yang kini masuk museum mini libraryku.

Bicara tentang diary, umumnya diary itu identik dengan perempuan ya. Apakah benar demikian?

Apakah Menulis Diary Hanya Untuk Perempuan?


Tampaknya mindset tentang diary identik dengan perempuan perlu dihapuskan. Sebab faktanya, penulis kenamaan yakni Pramoedya Ananta Toer rupanya beliau juga suka menulis semacam diary. Dan bahan dari tulisan tersebut dijadikan bahan untuk membuat cerita pendek atau novel.

Diary atau buku harian umumnya bersifat bebas. Bisa dilakukan oleh siapapun baik perempuan maupun laki-laki, baik anak hingga usia dewasa, serta mau bentuk puisi atau bahkan tulisan. Tak jarang ada pula yang membuat semacam gambar yang mewakili ekspresi mereka saat menulis buku harian.

Ah, bicara buku harian aku jadi memgingat kenanganku menuliskan cerita hari-hariku di masa kecil dalam buku merk sidu. Tahukah kalian Kawan Hamimku, buku itu adalah buku tulis yang biasa aku buat untuk sekolah. Namun pelajaran yang aku catat sedikit. Alhasil, lembar kosong dalam buku itu masih banyak. Akhirnya, ku ubah fungsi buku tersebut menjadi catatan harianku.

Selain, karena kondisi aku belum sanggup membeli buku diary cantik. Alasan lain menggunakan buku ini relatif lebih aman. Karena orang tak akan mengira jika buku catatan pelajaran sekolah itu isinya catatan hati, hwakaka.

Jadi begitulah, pengalamanku menulis buku harian atau diary. Apakah masih berlanjut aktivitas menulis diary itu?


Diary, Perempuan, dan Perasaannya


Sebagai orang berkarakter koleris sejatinya aku punya sisi dimana bisa menjadi orang yang sangat melow. Dan di saat aku berada di kondisi seperti ini, maka menulis adalah caraku untuk berekspresi.

Jadi kawan hamimku, terhitung sejak tahum 2007 hingga kini aku punya empat buku harian yang cukup tebal. Aku rajin menuliskan apa yang aku rasakan semasa kuliah.

Sayangnya, aktivitas menulis ini semakin tergerus sejak aku mengenal facebook. Ah, kenapa karakter sanguinisku ini kadang mendominasi hwakaka.

Bagiku diary adalah ruang menyimpan perasaan apa yang ingin aku luapkan. Khususnya yang aku tak ingin orang lain tahu. Namun bukan berarti aku tak pernah menulis hal receh. Jangan ditanya lagi Kawan Hamimku.

Diaryku ini cukup menjadi barang legend yang layak dimuseumkan biar awet. Sebab aku menyimpan catatan petualangan pertama kaliku dalam buku bersampul hijau dan biru itu.

Aku masih menyimpan tiket kereta pertama kali aku pergi ke Ibu Kota. Bahkan testimomi teman sejawatku tentangku berupa kertas pun masih aku simpan dalam diary itu.

Ya, aku suka mendokumentasikan semacam ini. Menyenangkan dan membuatku bernostalgia. Sejatinya ini adalah romantisme masa lalu yang sebaiknya cukup dikenang namun jangan membuat kita tenggelam.

Dalam diary itu, tersimpan banyak rasa dari perasaanku yang tak banyak orang mengetahui. Seputar ceritaku selama menjalani hari. Dan tentunya himpunan semangat gadis muda yang bersemangat.

Ah, jika mengenal masa muda dulu. Aku seharusnya semakin sadar bahwa aku bisa seberdaya itu. Kenapa sekarang dengan peran saat ini begitu sulit?

Yuks deh kita coba refleksi diri lagi Hamim!



Hamimeha
Hamimeha
Bismillah, lahir di Pulau Garam, tumbuh di kota Santri, menetap di kota Pahlawan., Saat ini suka berbagi tentang kepenulisan-keseharian-dan parenting., ● Pendidik, ● Penulis 11 buku antologi sejak 2018, ● Kontributor di beberapa media online lokal dan nasional sejak 2019, ● Praktisi read a loud dan berkisah, ● Memenangkan beberapa kompetisi menulis dan berkisah, ● Narasumber di beberapa komunitas tentang parenting dan literasi. ●

Related Posts

Posting Komentar